Hukum Menyanyi Dalam Islam

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam

Posted by Farid Ma’ruf pada 18 Januari 2007

Soal: Ustadz yang terhormat, saya mau nanya bagaimana hukumnya menanyi dan musik dalam pandangan Islam? Karena ada sebagian ulama yang mengharamkan, tapi ada sebagian ulama yang membolehkan. Mohon penjelasannya.

Jawab: 1. Pendahuluan

Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat ini yang cenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi atau kelompok musik terkenal yang umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistik yang mendominasi kehidupan saat ini. Walhasil, generasi muda Islam akhirnya cenderung membebek kepada para pemusik atau penyanyi sekuler yang sering mereka saksikan atau dengar di TV, radio, kaset, VCD, dan berbagai media lainnya.

Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telah menganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam. Muhammad Quthb mengatakan sekularisme adalah iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn, artinya, mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam, sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah) (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, hal. 25). Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya, termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian).

Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita.

Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandangan fiqih Islam. Diharapkan, norma-norma Islami yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan akademis atau menjadi wacana semata, tetapi juga menjadi acuan dasar untuk merumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif Islam. Selain itu, tentu saja perumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupa perilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimal di kampus atau lingkungan kita.

2. Definisi Seni

Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebih dahulu definisi seni, sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (fahmul waqi’) yang menjadi objek penerapan hukum. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13).

Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni vokal. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dan lain-lain) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13-14). Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan.

3. Tinjauan Fiqih Islam

Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, penulis melakukan pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. Menurut penulis, terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum memainkan musik dan hukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. Maka dari itu, paling tidak, ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik dan menyanyi, yaitu:

Pertama, hukum melantunkan nyanyian (ghina’).

Kedua, hukum mendengarkan nyanyian.

Ketiga, hukum memainkan alat musik.

Keempat, hukum mendengarkan musik.

Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam berupa kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum, agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengan kemaksiatan atau keharaman.

Ada baiknya penulis sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yang disepakati oleh para fuqaha, melainkan hukum yang termasuk dalam masalah khilafiyah. Jadi para ulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, hal. 41-42; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96; Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 21-25; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 3). Karena itu, boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya. Pendapat-pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda dengan pendapat penulis, tetap penulis hormati.

3.1. Hukum Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni)

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):

A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:

a. Berdasarkan firman Allah:

Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Qs. Luqmân [31]: 6)

Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22).

b. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].

c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih].

d. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda:

Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf].

e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda:

Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya.].

f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).

B. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian:

a. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

b. Hadits dari Nafi’ ra, katanya:

Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi].

c. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata:

Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda:

Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra].

d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda:

Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari].

e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata:

Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485].

C. Pandangan Penulis

Dengan menelaah dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya), akan nampak adanya kontradiksi (ta’arudh) satu dalil dengan dalil lainnya. Karena itu kita perlu melihat kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan ulama untuk menyikapi secara bijaksana berbagai dalil yang nampak bertentangan itu.

Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi Saw ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (Imam asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, hal. 275).

Karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’) di antara keduanya, bukan menolak salah satunya. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih, yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. Dalam hal ini Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih:

Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihimaMengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.” (Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 390).

Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan:

Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal lâ al-ihmalPada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1, hal. 239).

Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut : bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103).

Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya. Nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103).

3.2. Hukum Mendengarkan Nyanyian

a. Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’)

Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’). Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan manusia, seperti berjalan, duduk, tidur, menggerakkan kaki, menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui, mendengar, dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah, kecuali adfa dalil yang mengharamkan. Kaidah syariah menetapkan:

Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahahHukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah, adalah mubah.” (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96).

Maka dari itu, melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Jadi, melihat apa saja adalah boleh, apakah melihat gunung, pohon, batu, kerikil, mobil, dan seterusnya. Masing-masing ini tidak memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya, sebab melihat itu sendiri adalah boleh menurut syara’. Hanya saja jika ada dalil khusus yang mengaramkan melihat sesuatu, misalnya melihat aurat wanita, maka pada saat itu melihat hukumnya haram.

Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Mendengar suara apa saja boleh, apakah suara gemericik air, suara halilintar, suara binatang, juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. Hanya saja di sini ada sedikit catatan. Jika suara yang terdengar berisi suatu aktivitas maksiat, maka meskipun mendengarnya mubah, ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak boleh mendiamkannya. Misalnya kita mendengar seseorang mengatakan, “Saya akan membunuh si Fulan!” Membunuh memang haram. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang tadi, sebenarnya adalah mubah, tidak haram. Hanya saja kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut dan kita diharamkan mendiamkannya.

Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran, kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw bersabda:

Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah].

b. Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’)

Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain, yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses menyanyinya seseorang. Sedangkan istima’ li al-ghina’, adalah lebih dari sekedar mendengar, yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama sang penyanyi, berada dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan nyanyian sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah, sedang mendengar-menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah.

Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut.

Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah haram (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Allah SWT berfirman:

Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 140).

…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (Qs. al-An’âm [6]: 68).

3.3. Hukum Memainkan Alat Musik

Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano, rebana, dan sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits, yaitu ad-duff atau al-ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi Saw:

Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” [HR. Ibnu Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24).

Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal, maka ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Dalam hal ini penulis cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if. Memang ada beberapa ahli hadits yang memandang shahih, seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, Imam an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Imam Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Imam Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mugits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar juga Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan masih banyak lagi. Akan tetapi Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Dha’if al-Adab al-Mufrad setuju dengan pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’ (Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16).

Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59 mengatakan:

Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).

Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.

3.4. Hukum Mendengarkan Musik

a. Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live)

Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan vokal) secara langsung, seperti show di panggung pertunjukkan, di GOR, lapangan, dan semisalnya, hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian secara interaktif. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya.

Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya haram.

Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74).

b. Mendengarkan Musik Di Radio, TV, Dan Semisalnya

Menurut Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74-76) dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki (Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 107-108) hukum mendengarkan musik melalui media TV, radio, dan semisalnya, tidak sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di panggung pertunjukkan. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah), bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut.

Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’) —dalam hal ini TV, kaset, VCD, dan semisalnya— yaitu mubah. Kaidah syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan:

Al-ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrimHukum asal benda-benda, adalah boleh, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 76).

Namun demikian, meskipun asalnya adalah mubah, hukumnya dapat menjadi haram, bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. Kaidah syar’iyah menetapkan:

Al-wasilah ila al-haram haramSegala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal. 86).

4. Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami

Setelah menerangkan berbagai hukum di atas, penulis ingin membuat suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami):

1. Musisi/Penyanyi.

2. Instrumen (alat musik).

3. Sya’ir dalam bait lagu.

4. Waktu dan Tempat.

Berikut sekilas uraiannya:

1). Musisi/Penyanyi

a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya, mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam. Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran, menentang kezaliman penguasa sekuler.

b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya, mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan sejenisnya.

c) Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. Ini semua haram.

2). Instrumen/Alat Musik

Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah:

a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat.

b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim.

Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

3). Sya’ir

Berisi:

a) Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya)

b) Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya.

c) Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia.

d) Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama.

e) Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.

Tidak berisi:

a) Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb).

b) Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an.

c) Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah.

d) Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya).

e) Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.

4). Waktu Dan Tempat

a) Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya.

b) Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib).

c) Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat).

d) Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur).

5. Penutup

Demikianlah kiranya apa yang dapat penulis sampaikan mengenai hukum menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Tentu saja tulisan ini terlalu sederhana jika dikatakan sempurna. Maka dari itu, dialog dan kritik konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dan koreksi.

Penulis sadari bahwa permasalahan yang dibahas ini adalah permasalahan khilafiyah. Mungkin sebagian pembaca ada yang berbeda pandangan dalam menentukan status hukum menyanyi dan musik ini, dan perbedaan itu sangat penulis hormati.

Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi —walau pun cuma secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang bobrok, yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama, yaitu masyarakat Islam di bawah naungan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Amin. [M. Shiddiq al-Jawi] (www.faridm.com)

Wallahu a’lam bi ash-showab.

Daftar Bacaan

* Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq).

* Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).

* Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press).

* Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press).

* Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Juz II. Qism Al-Mu’amalat. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).

* Asy-Syaukani. Tanpa Tahun. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al-Ushul.(Beirut : Darul Fikr).

* Asy-Syuwaiki, Muhammad. Tanpa Tahun. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. (Al-Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah).

* An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III (Ushul Al-Fiqh). Cetakan II. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir).

* ———-. 1963. Muqaddimah Ad-Dustur.(t.t.p. : t.p.).

* ———-. 1994. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah).

* ———-.2001. Nizham Al-Islam. (t.t.p. : t.p.).

* Ath-Thahhan, Mahmud. Tanpa Tahun. Taysir Musthalah Al-Hadits. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah).

* Bulletin An-Nur. Hukum Musik dan Lagu. http://www.alsofwah.or.id/

* Bulletin Istinbat. Mendengarkan Musik, Haram ? http://www.sidogiri.com/

* Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. http://www.syariahonline.com/

* Kusuma, Juanda. 2001. Tentang Musik. http://www.pesantrenvirtual.com/

* “Norma Islam untuk Musisi, Instrumen, Sya’ir, dan Waktu”. Musik. http://www.ashifnet.tripod.com/

* Omar, Toha Yahya. 1983. Hukum Seni Musik, Seni Suara, dan Seni Tari Dalam Islam. Cetakan II. (Jakarta : Penerbit Widjaya).

* Santoso, Iman. Hukum Nyanyian dan Musik. http://www.ummigroup.co.id/

* Wafaa, Muhammad. 2001. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara’ (Ta’arudh Al-Adillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih Baynaha). Alih Bahasa oleh Muslich. Cetakan I. (Bangil : Al-Izzah).Gambar


kisah ob manjadi vice president disebuah pebankan……..

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership bank Syariah Mandiri)


keutamaan shalat witir

اَلْوِتْرَ(Al-witir) secara bahasa bermaksud jumlah yang ganjil seperti sekali, tiga kali, lima kali dan seterusnya. Ianya seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

Maksudnya:

Dan Dia (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala) itu ganjil (Tunggal atau Maha Esa)  dan mencintai yang ganjil. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Da’waat, no: 6410.

Al-Witir secara syarak bermaksud solat sunat yang dikerjakan di antara solat Isyak hingga munculnya fajar yakni masuknya waktu subuh dan ianya menjadi penutup bagi solat malam. Ianya digelarkan sebagai al-Witir kerana jumlah rakaatnya adalah ganjil seperti 1 rakaat, 3 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat dan seterusnya. Solat Witir ini tidak boleh dikerjakan dalam jumlah rakaat yang genap.

DALIL DISYARIATKAN

Solat Witir merupakan solat yang diutamakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehinggakan baginda tidak pernah meninggalkan perlaksanaannya walaupun ketika bermusafir. Dalil-dalil yang menunjukkan sabitnya anjuran untuk mengerjakan solat Witir ini begitu banyak. Di antaranya adalah riwayat daripada ‘Abdullah bin ‘Umar bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.

Maksudnya:

Jadikanlah solat witir sebagai solat terakhir kalian pada malam hari. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Witr, no: 998.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menekankan perlaksanaan solat Witir ini sebagaimana pesanannya kepada Abu Darda’radhiallahu’ anh yang berkata:

أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ

بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لاَ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ.

 Maksudnya:

Kekasihku shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan sehingga akhir hayatku; berpuasa tiga hari setiap bulan (hijrah), mengerjakan  solat Dhuha dan tidak tidur sebelum  mengerjakan solat witir. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatul Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 722.

Berkenaan hukum melaksanakan solat Witir ini jumhur ulamak daripada para sahabat, tabi’in dan generasi setelah tabi’in berpendapat ianya adalah sunat mu’akkadah. Sebagaimana yang kita sedia maklum ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman, baginda bersabda:

ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ

فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ…

 Maksudnya:

Serulah kepada mereka (yakni penduduk Yaman) kalimah syahadah bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan aku adalah pesuruh Allah dan apabila mereka telah taat atas perkara ini maka beritahukan kepada mereka bahawa Allah mewajibkan mereka solat lima waktu sehari semalam… – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Zakaah, no: 1395.

Menerusi hadis ini dapat kita simpulkan bahawa solat yang diwajibkan ke atas umat Islam hanyalah solat lima waktu sehari semalam. Maka solat-solat selain itu termasuk solat Witir ini hanya termasuk dalam perkara tathawwu’. Hukum ini juga adalah bersandarkan sebuah riwayat daripada ‘Ali radhiallahu’ anh:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 Maksudnya:

Solat Witir tidaklah wajib seperti solat yang difardukan ke atas kamu, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. – Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 415

KEUTAMAANNYA

Allah Subhanahu wa Ta’ala amat menyukai mereka yang mengerjakan solat witir. Daripada ‘Ali radhiallahu’ anh di berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.

 Maksudnya:

Wahai ahli al-Qur’an (mereka yang membaca dan beramal dengan al-Qur’an), Hendaklah kamu mengerjakan solat Witir, sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil. – Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 1207

Solat Witir juga merupakan sebahagian dari solat malam dan sebagaimana yang kita telah sedia maklum solat malam ini merupakan sebaik-baik solat setelah solat fardu dan ianya memiliki banyak keutamaan yang telah penulis paparkan ketika membicarakan bab Keutamaan Solat Tahajjud. Silalah rujuk ke sana.

TATACARA PERLAKSANAAN SERTA HUKUM-HUKUM BERKAITAN

Waktu Didirikan Solat Witir

Solat Witir boleh didirikan setelah mengerjakan solat Isyak sehinggalah sebelum terbitnya fajar. Daripada ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu’ anha, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ

وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلإِقَامَةِ.

 Maksudnya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan solat sebelas rakaat pada waktu di antara selesai solat Isyak iaitu suatu waktu yang orang-orang disebut sebagai ‘atamah (sampai subuh) sebanyak sebelas rakaat, dengan salam setiap dua rakaat dan mengerjakan solat Witir satu rakaat. Apabila muadzdzin telah berhenti mengumandangkan azan solat Subuh, sudah nampak jelas pula fajar olehnya, dan baginda juga sudah didatangi oleh muadzdzin, baginda segera berdiri dan mengerjakan dua rakaat ringan kemudian berbaring ke sisi kanannya sehingga datang muadzdzin kepada baginda untuk mengumandangkan iqamah. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 736.

Namun begitu waktu yang afdal untuk mengerjakan solat Witir adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Daripada ‘Aisyah, dia berkata:

كُلَّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ

Maksudnya:

Setiap malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan solat witir dan berakhir sampai waktu sahur. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Witr, no: 996

 Apatah lagi terdapat satu waktu pada sepertiga malam itu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan turun ke langit dunia dan akan memperkenankan doa dan permintaan serta memberi pengampunan kepada hamba-hamba-Nya.. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ.

يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

Maksudnya:

Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir. Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, nescaya Aku akan mengabulkannya; siapa yang meminta kepada-Ku, nescaya Aku akan memberinya; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, nescaya Aku akan mengampunnya. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at-Tahajjud, no: 1145.

Namun demikian sekiranya seseorang itu khuatir bahawa dia tidak mampu untuk bangun mengerjakan solat Witir pada sepertiga malam yang terakhir, hendaklah dia mengerjakannya sebelum tidur. Daripada Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu’ anh, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ

وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ.

 Maksudnya:

Barangsiapa di antara kamu khuatir tidak bangun pada akhir waktu malam, hendaklah mengerjakan Witir pada awal malam, kemudian tidurlah. Dan barangsiapa di antara kalian merasa mampu untuk bangun pada akhir malam, hendaklah melakukan Witir pada sebahagian akhir malam. Kerana solat pada akhir waktu malam disaksikan dan dihadiri (malaikat), maka hal itu lebih utama. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 755.

Sekiranya telah mengerjakan solat Witir pada awal malam iaitu sebelum tidur, tetapi seseorang itu terjaga pada sepertiga malam yang akhir maka dia tidak boleh melakukan sekali lagi solat Witir. Ini adalah kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

Maksudnya:

Tidak ada dua Witir dalam satu malam. – Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no.1227.

Namun demikian diperbolehkan baginya untuk mengerjakan solat-solat sunat yang lain kerana diperbolehkan untuk mengerjakan solat sunat walaupun telah mendirikan solat Witir. Menurut Syaikh Muhammad at-Tuwaijiri:

Siapa yang Witir pada awal malam kemudian terbangun pada akhir malam maka solatlah secara genap tanpa ada witir. – Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijirsi, Mukhtasar al-Fiqhi al-Islami, ms. 712,

Jumlah Rakaat Solat Witir

Sebagaimana yang kita telah sedia maklum solat Witir mempunyai jumlaah rakaat yang ganjil. Menerusi hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita dapati terdapat variasi jumlah rakaat yang dilaksanakan oleh baginda

PERTAMA: Solat Witir dengan hanya satu rakaat. Dalilnya adalah sebuah riwayat daripada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’ anhuma, dia berkata:

إِنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ.

قَالَ: مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ.

 Maksudnya:

Sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, bagaimanakah solat malam? Baginda bersabda: Dua-dua (rakaat), apabila engkau khuatir (masuk waktu subuh), maka laksanakan solat Witir satu rakaat. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at-Tahajjud, no: 1137.

* Tatacara mengerjakannya

Rakaat Pertama

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Rukuk

7)      Iktidal

8)      Sujud

9)      Duduk antara dua sujud

10)    Sujud kali kedua

11)    Duduk untuk tahiyyat akhir

12)    Memberi salam ke kanan dan ke kiri

KEDUA: Solat Witir dengan tiga rakaat. Tatacara perlaksanaannya ada dua :-

  1. Mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu dan salam. Setelah itu didirikan satu lagi rakaat secara berasingan dan salam. Dalilnya adalah riwayat daripada Nafi’:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِي الْوِتْرِ.

Maksudnya:

Bahawa ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam antara satu rakaat dan dua rakaat dalam solat Witir. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Witr, no: 991.

* Tatacara mengerjakannya

Rakaat Pertama

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Rukuk

7)      Iktidal

8)      Sujud

9)      Duduk antara dua sujud

10)    Sujud kali kedua

11)    Bangun untuk rakaat kedua

Rakaat Kedua

1)      Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

2)      Duduk untuk tahiyyat akhir

3)      Memberi salam kanan dan kiri dan bagun untuk mengerjakan rakaat terakhir

Rakaat Ketiga

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Rukuk

7)      Iktidal

8)      Sujud

9)      Duduk antara dua sujud

10)    Sujud kali kedua

11)    Duduk untuk tahiyyat akhir

12)    Memberi salam ke kanan dan ke kiri

  1. Mendirikan tiga rakaat sekaligus dengan hanya satu salam.

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً.

يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ. ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ.

ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا.

Maksudnya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menambah pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan-bulan lainnya, melebihi sebelas rakaat; baginda solat empat rakaat, jangan kamu persoalkan akan kebagusan dan panjangnya. Kemudian baginda solat empat rakaat lagi, jangan kamu persoalkan akan kebagusan dan panjangnya. Kemudian baginda solat tiga rakaat (witir). – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at-Tahajjud, no: 1147.

 Solat Witir sebanyak tiga rakaat ini berbeza dari Solat Maghrib yang terdapat dua tasyahhud. Tasyahhud solat Witir hanyalah satu yakni pada rakaat yang ketiga. Surah-Surah yang baginda baca untuk solat Witir tiga rakaat adalah Surah al-A’la, Surah al-Kaafiruun dan Surah al-Ikhlash sebagaimana riwayat daripada Ubay bin Ka’ab, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى

وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

وَلاَ يُسَلِّمُ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ وَيَقُولُ يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلاَثًا

 Maksudnya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca dalam Solat Witir ‘Sabbhisma rabbikal a’laa’ dan pada rakaat kedua membaca ‘Qulyaa ayyuhal kaafiruun’ dan pada rakaat ketiga ‘Qulhuwallahu ahad’ dan baginda tidak mengucapkan salam kecuali pada akhir rakaat dan baginda membaca ‘Subhanal malikul qudduus’ sebanyak tiga setelah memberi salam – Hadis riwayat Imam al-Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Qiyaamul Lail wa Tathawwu’un Nahaar, no: 1683.

Melalui hadis di atas kita juga dapat mengetahui bahawa setelah selesai solat witir baginda membaca zikir سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (Maha suci Tuhan Raja yang Kudus).

* Tatacara mengerjakannya

Rakaat Pertama

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Rukuk

7)      Iktidal

8)      Sujud

9)      Duduk antara dua sujud

10)    Sujud kali kedua

11)    Bangun untuk rakaat kedua

Rakaat Kedua

1)      Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

2)      Bangun untuk rakaat ketiga

Rakaat Ketiga

1)      Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

2)      Duduk untuk tahiyyat akhir

3)      Memberi salam ke kanan dan ke kiri

KETIGA: Solat Witir dengan lima rakaat dengan satu tasyahhud pada rakaat yang terakhir. Tatacara ini adalah bersandarkan kepada hadis daripada ‘Aisyah radhiallahu’ anha, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ فِي آخِرِهَا.

Maksudnya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan solat pada malam hari tiga belas rakaat, baginda berwitir lima rakaat dan tidak duduk (untuk tasyahhud) kecuali pada akhir rakaat. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 737.

Namun begitu terdapat juga pendapat bahawa solat Witir lima rakaat boleh dilaksanakan dengan melaksanakan dua rakaat lalu salam, dua rakaat lagi lalu salam dan diakhirkan dengan satu rakaat dan salam. Tatacara ini adalah bersandarkan keumuman lafaz dalam hadis daripada  ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’ anhuma, dia berkata:

إِنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ.

قَالَ: مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ.

 Maksudnya:

Sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, bagaimanakah solat malam? Baginda bersabda: Dua-dua (rakaat), apabila engkau khuatir (masuk waktu subuh), maka laksanakan solat Witir satu rakaat. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at-Tahajjud, no: 1137.

 

KEEMPAT: Solat Witir dengan tujuh rakaat dengan membaca tasyahhud pada rakaat ketujuh. Hal ini adalah bersandarkan kepada hadis daripada ‘Aisyah radhiallahu’ anha, dia berkata:

فَلَمَّا سَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَهُ اللَّحْمُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ

Maksudnya:

…Setelah Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin tua dan tubuhnya semakin gemuk baginda mengerjakan Witir dengan tujuh rakaat…– Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 746.

Menerusi hadis yang diriwayatkan Imam al-Nasa’i pula disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَأَخَذَ اللَّحْمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِي آخِرِهِنَّ…

Maksudnya:

Daripada ‘Aisyah dia berkata: Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin tua dan tubuhnya semakin gemuk baginda mengerjakan Witir dengan tujuh rakaat dan baginda tidak duduk (tahiyyat) kecuali di akhir rakaat… – Hadis riwayat Imam al-Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Qiyaam al-Lail wa Tathawwu’ al-Nahaar, no: 1699.

Ada juga yang berpendapat solat Witir tujuh rakaat ini dibenarkan untuk didirikan dengan mengerjakan solat dua rakaat sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan solat satu rakaat sebagaimana keumuman hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’ anhuma yang telah penulis paparkan sebelum ini.

 

KELIMA: Solat Witir sebanyak sembilan rakaat dengan dua tasyahhud yakni tasyahhud awal pada rakaat kelapan dan tasyahhud akhir pada rakaat kesembilan. Hal ini adalah bersandarkan kepada hadis daripada ‘Aisyah radhiallahu’ anha, dia berkata:

وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ

ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ

ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ

ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Maksudnya:

(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekiranya bersolat Witir) sembilan rakaat baginda tidak duduk (untuk tasyahhud awal) kecuali pada rakaat kelapan. Kemudian baginda memanjatkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berzikir dan berdoa (membaca tasyahhud). Setelah itu baginda bangkit dengan tidak mengucapkan salam. Selanjutnya baginda mengerjakan rakaat kesembilan lalu duduk dan berzikir kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa, serta berdoa (membaca  tasyahhud akhir) kemudian mengucapkan salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu baginda mengerjakan solat dua rakaat… – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 746.

Ada juga yang berpendapat solat Witir sembilan rakaat ini dibenarkan untuk didirikan dengan mengerjakan solat dua rakaat sebanyak empat kali dan diakhiri dengan solat satu rakaat sebagaimana keumuman hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’ anhuma yang telah penulis paparkan sebelum ini.

Membaca Qunut Dalam Solat Witir

Kadangkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qunut dalam solat Witir. Qunut adalah nama bagi perbuatan untuk berdoa dalam solat pada tempat yang tertentu ketika berdiri. Dalil disyariatkan membaca qunut dan lafaz doa qunut ketika solat Witir adalah:

عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ فِي الْوِتْرِ قَالَ

قُلْ اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ

وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ

(وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ) تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ.

Maksudnya:

Diriwayatkan daripada Hasan bin Ali radhiallahu’ anh, bahawa dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan aku beberapa kalimat yang harus aku ucapkan di dalam solat Witir, iaitu Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau tunjukkan, Selamatkanlah aku dalam golongan orang-orang yang telah Engkau pelihara. Berikanlah berkat dalam segala sesuatu yang telah Engkau berikan. Hindarkanlah diriku dari segala bahaya yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan bukan yang ditentukan, Sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau lindungi (dan tidak akan menjadi mulia orang yang Engkau musuhi). Engkau wahai Tuhan adalah Maha Mulia serta Maha Tinggi. Dan semoga Allah tetap memberi rahmat ke atas Nabi Muhammad. – Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no. 426. (tambahan dari riwayat Abu Daud, Kitab al-Solat, no: 1214)

Qunut ketika solat Witir dibaca pada rakaat yang terakhir setelah membaca surah dan sebelum rukuk. Dalilnya adalah sebuah  riwayat daripada Ubay bin Ka’ab, dia berkata:

كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ.

Maksudnya:

Bahawasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan Witir lalu membaca qunut sebelum rukuk. – Hadis riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Iqaamatush Sholaah was Sunnah Fiiha, no: 1182.

Adalah disunatkan untuk membaca qunut dalam solat Witir ini pada malam-malam lima belas terakhir pada bulan Ramadan dan ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’i rahimahullah. Menurut Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah pandangan ini adalah bersandarkan riwayat daripada Abu Dawud bahawa ‘Umar al-Khaththab radhiallahu ‘anh mengumpulkan orang ramai untuk bersolat (tarawih) jemaah dengan berimamkan kepada Ubai bin Ka’ab radhiallahu ‘anh. Selama dua puluh hari Ubai menjadi imam kepada mereka dan tidak pernah mengerjakan qunut melainkan pada pertengahan akhir pada bulan Ramadan. – Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, jilid 2, ms. 37-38.

* Tatacara mengerjakan doa qunut dalam solat Witir.

Rakaat Pertama

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Rukuk

7)      Iktidal

8)      Sujud

9)      Duduk antara dua sujud

10)    Sujud kali kedua

11)    Bangun untuk rakaat kedua

Rakaat Kedua

1)      Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

2)      Duduk untuk tahiyyat akhir

3)      Memberi salam kanan dan kiri dan bagun untuk mengerjakan rakaat ke terakhir

Rakaat Ketiga

1)      Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Witir

2)      Takbiratul Ihram

3)      Doa Iftitah

4)      Membaca surah al-Fatihah

5)      Membaca Surah al-Qur’an

6)      Membaca Doa Qunut

7)      Rukuk

8)      Iktidal

9)      Sujud

10)    Duduk antara dua sujud

11)    Sujud kali kedua

12)    Duduk untuk tahiyyat akhir

13)    Memberi salam ke kanan dan ke kiri

Cara Menqadha Solat Witir

Apabila seseorang tertinggal mengerjakan solat Witir disebabkan perkara-perkara yang valid seperti tertidur atau terlupa maka ianya boleh diqadhakan ketika tersedar. Hal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ.

Maksudnya:

Barangsiapa tertidur atau lupa sehingga tidak mengerjakan solat Witir, hendaklah dia mengerjakannya ketika dia teringat. – Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 1431.

Ulamak berbeza pendapat tentang kadar waktu yang dibenarkan untuk mengqadhakan solat Witir. Hadis di atas secara umum menyebutkan bahawa ianya boleh dilaksanakan pada bila-bila masa sahaja pada hari itu ketika teringat. Hanya sahaja yang afdal adalah ianya dikerjakan pada waktu di antara Subuh dan sebelum Zuhur agar mendapat pahala yang menyamai jika dikerjakan pada malam hari. Ini adalah kerana telah diriwayatkan daripada ‘Umar bin al-Khatthab radhiallahu’ anh, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ

كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنْ اللَّيْلِ.

Maksudnya:

Barangsiapa yang tertidur sehingga tidak sempat mengerjakan solat malam atau membaca al-Qur’an pada malam hari (padahal dia sudah berniat untuk mengerjakannya), kemudian dia mengerjakan pada waktu di antara Subuh dan Zuhur, nescaya akan dicatatkan untuknya seolah-olah dia telah mengerjakannya pada malam hari. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 747.

Namun begitu sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengqadhakan solat malamnya pada siang hari baginda akan menggenapkannya dari sebelas rakaat menjadi dua belas rakaat. Diriwayatkan daripada ‘Aisyah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ

وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنْ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Maksudnya:

…Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengerjakan sesuatu solat baginda suka untuk mengerjakannya secara berterusan. Apabila baginda tertidur atau sakit sehingga tidak sempat mengerjakan solat malam baginda mengerjakan solat pada siang harinya sebanyak dua belas rakaat. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 746.

Oleh itu bagi sesiapa yang solat Witirnya secara kebiasaanya dikerjakan sebanyak satu rakaat maka apabila diqadha pada siang hari ianya dikerjakan sebanyak dua rakaat dan tiga rakaat menjadi empat rakaat dan seterusnya.

Bolehkah Mengerjakan Solat Sunat Setelah Solat Witir

Sebagaimana yang telah sedia maklum solat Witir dianggap penutup bagi solat malam. Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.

Maksudnya:

Jadikanlah solat Witir sebagai solat terakhir kalian pada malam hari. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Witr, no: 998.

Rentetan dari hadis di atas ada yang beranggapan tidak boleh lagi melaksanakan solat sunat setelah mengerjakan solat Witir. Namun begitu tanggapan ini dapat dibantah kerana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan solat sunat setelah mengerjakan solat Witir. Daripada ‘Aisyah radhiallahu’ anha, dia berkata:

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَرَكْعَتَيْنِ جَالِسًا

وَرَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءَيْنِ وَلَمْ يَكُنْ يَدَعْهُمَا أَبَدًا.

Maksudnya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam solat Isyak kemudian solat lapan rakaat dan dua rakaat dengan duduk serta dua rakaat (Qabliyah Subuh) di antara dua seruan (yakni azan dan iqamah). Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan kedua rakaat (Qabliyah Subuh) tersebut – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Tahajjud, no: 1159

Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah walaupun dalam riwayat di atas tidak menyebutkan tentang solat Witir namun hal ini diperjelaskan melalui riwayat al-Laits dengan lafaz:

كَانَ يُصَلِّي بِثَلاَث عَشْرَة رَكْعَة تِسْعًا قَائِمًا وَرَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِس

Maksudnya:

Baginda solat tiga belas rakaat, sembilan rakaat dengan berdiri dan dua rakaat dengan duduk. – Rujuk Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 6, ms. 314.

Dalam riwayat Imam Muslim kita akan gambaran yang lebih jelas akan hal ini.

Daripada Abi Salamah, dia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu’ anha tentang solat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia menjawab:

كَانَ يُصَلِّي ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِس

فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.

Bahawasanya baginda bersolat sebanyak tiga belas rakaat. Baginda solat lapan rakaat kemudian (mengerjakan solat) Witir, kemudian solat dua rakaat sambil duduk, apabila hendak rukuk, baginda berdiri lalu rukuk, kemudian baginda solat dua rakaat (Qabliyah Subuh) di antara azan dan iqamah solat Subuh. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 738.

Seterusnya hal ini diperkuatkan lagi dengan riwayat di bawah:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ

يَقْرَأُ فِيهِمَا إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Maksudnya:

Daripada Abi Umamah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan solat dua rakaat setelah mengerjakan solat witir dengan duduk dan baginda membaca ‘Idza zul zilztil ardhu’ dan ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’. – Hadis riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya, no: 21216.

Hanya sahaja Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berterusan dalam melaksanakan solat dua rakaat setelah Witir tersebut. Solat dua rakaat setelah Witir itu boleh dianggap sebagai solat untuk menyempurnakan kekurangan yang mungkin ada ketika melaksanakan solat Witir tersebut. Ibnu Qayyim rahimahullah memperjelaskan:

Sebahagian orang ada yang merasa musykil dengan masalah solat dua rakaat setelah witir ini kerana ianya dilihat bertentangan dengan sabda baginda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.

Jadikanlah solat witir sebagai solat terakhir kalian pada malam hari.

Dalam hal ini Imam Ahmad berkata: Aku tidak mengerjakannya tapi juga tidak melarang orang lain mengerjakannya. Sedangkan Imam Malik mengingkari dua rakaat itu. Ada pula yang menyatakan bahawa baginda mengerjakan dua rakaat itu untuk menunjukkan bahawa diperbolehkan solat (sunat) setelah Witir. Mereka menafsirkan perintah baginda untuk mengakhiri solat malam dengan Witir sebagai anjuran dan dua rakaat sesudahnya diperbolehkan. Apa yang benar, Witir adalah ibadah yang berdiri sendiri. Dua rakaat yang baginda lakukan setelah itu seperti halnya sunat (Ba’diyah) setelah Maghrib yang melengkapi solat Maghrib. Sehingga dua rakaat ini juga melengkapi solat Witir sebagai penutup solat malam. Dua rakaat setelahnya sebagai pelengkap. – Rujuk Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Mukhtashar Zaadul Ma’ad, diringkaskan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab al-Tamimi (edisi terjemahan dengan tajuk Zaadul Maad : Bekal Perjalan Ke Akhirat, Pustaka Azam, Jakarta 1999) ms. 36-37.

Tidur Sejenak Setelah Mengerjakan Solat Witir

Disunnahkan juga untuk tidur setelah mengerjakan solat malam termasuk solat Witir sehinggalah dikumandangkan azan Subuh. Daripada al-Aswad, dia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu’ anha: Bagaimana solat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam hari. ‘Aisyah berkata:

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ.

Maksudnya:

Biasanya baginda tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam lalu solat, kemudian kembali lagi ke tempat tidurnya. Apabila muadzdzin telah mengumandangkan azan baginda bangun. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Tahajjud, no: 1146.

Adakah hal ini bertentang dengan hadis tentang baring sejenak setelah mengerjakan solat Qabliyah Subuh? Syaikh Abu Malik Kamal menyatakan:

Apa yang jelas adalah disyariatkannya tidur setelah dua rakaat sunat Subuh, namun pada kenyataannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada satu waktu baginda tidur antara solat malam dan solat Subuh. Pada waktu yang lain pula baginda tidur setelah dua rakaat solat sunat Subuh. Mungkin sahaja baginda tidur pada kedua waktu itu. Wallahu a’lam. – rujuk Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib al-A’immah (edisi terjemahan dengan tajuk Shahih Fikih Sunnah terbitan Pustaka Azzam, Jakarta, 2006), jilid 1, ms. 621.


keutamaan shalat tahajud

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.

Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)

Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .

Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)

Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )

Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )

Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)

Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )

Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)

Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)

Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.


keutamaan shalat dhuha


SEMBAHYANG DHUHA
Murahkan rezeki, menolak kepapaan

Antara ibadat sunat yang dianjurkan dan menjadi amalan Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri ialah sembahyang sunat Dhuha. Banyak hadis-hadis yang mengalakkannya dan menyatakan keutamaannya, Antaranya dalam riwayat  Abu Hurairah katanya:-

“Kekasihku Rasullullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara, aku tidak meninggalkannya, iaitu ; supaya aku tidak tidur melainkan setelah mengerjakan witir, dan supaya aku tidak meninggalkan dua rakaat sembahyang Dhuha kerana ia adalah sunat awwabin, dan berpuasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan”

( Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Dalam riwayat yang lain Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda yang maksudnya :      ” Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah ( sebagai ganti ) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat sembahyang Dhuha .”

( Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Adapun kelebihan sembahyang Dhuha itu sepertimana di dalam kitab “An-Nurain” sabda Rasullullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam yang maksudnya : “Dua rakaat Dhuha menarik rezeki dan menolak kepapaan.”

Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya :

“Barangsiapa yang menjaga sembahyang Dhuhanya nescaya diampuni Allah baginya aku segala dosanya walaupun seperti buih dilautan.”

(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Dan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata :

“Aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Barangsiapa yang mengerjakan sembahyang sunat Dhuha dua belas rakaat dibina akan Allah baginya sebuah mahligai daripada emas”

(Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Waktu sembahyang Dhuha ialah dari naik matahari sampai sepenggalah dan berakhir di waktu matahari tergelincir tetapi disunatkan dita’khirkan sehingga matahari naik tinggi dan panas terik.

Cara menunaikannya pula adalah sama seperti sembahyang-sembahyang sunat yang lain iaitu dua rakaat satu salam. Boleh juga dikerjakan empat rakaat, enam rakaat dan lapan rakaat. Menurut sebahagian ulama jumlah rakaatnya tidak terbatas dan tidak ada dalil yang membatasi jumlah rakaat secara tertentu, sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bermaksud :”Adalah Nabi Sallallahu ‘alaihi  wasallam bersembahyang Dhuha empat rakaat dan menambahnya seberapa yang dikehendakinya.”

(Hadis riwayat Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam sebuah hadis yang lain Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bermaksud :

Barangsiapa yang menunaikan sembahyang sunat Dhuha sebanyak dua rakaat tidak ditulis dia daripada orang-orang yang tidak lalai daripada mengingati Allah dan barangsiapa yang menunaikan nya sebanyak empat rakaat ditulis akan dia daripada orang-orang yang suka beribadat dan barangsiapa yang menunaikannya sebanyak enam rakaat dicukupkan baginya pada hari tersebut, barangsiapa menunaikanyan sebanyak lapan rakaat Allah menulis baginya daripada orang-orang yang selalu berbuat taat, barang siapa yang menunaikannya sebanyak dua belas rakaat Allah akan membina baginya mahligai didalam syurga dan tidak ada satu hari dan malam melainkan Allah mempunyai pemberian dan sedekah kepada hamba-hambaNya dan Allah tidak mengurniakan kepada seseorang daripada hamba-hambaNya yang lebih baik daripada petunjuk supaya sentiasa mengingatiNya,”

( Riwayat At-Thabarani )

Manakala surah yang sunat dibaca selepas membaca Faatihah pada rakaat pertama ialah surah as-Syams dan rakaat kedua selepas membaca al-Faatihah disunatkan membaca surah adh-Dhuha.

doa shalat dhuha

 

” Ya Allah, bahawasanya waktu Dhuha itu waktu DhuhaMu, kecantikan itu ialah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu, kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu dan perlindungan itu perlindungan Mu. Ya Allah jika rezekiku masih diatas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika ia (dari yang) haram maka sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, Keagungan, Keindahan, Kekuatan dan Kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada hamba-hamba Mu yang saleh .”


keluarga berencana nan sejahtera

keluarga berencana nan sejahtera

yupz ah………keluarga kecil bahagia


MULIA

Logam Mulia atau emas mempunyai berbagai aspek yang menyentuh kebutuhan manusia disamping memiliki nilai estetis yang tinggi juga merupakan jenis investasi yang nilainya stabil, likuid, dan aman secara riil.

Mulia (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi) adalah penjualan logam Mulia oleh Pegadaian kepada masyarakat secara tunai, dan agunan dengan jangka waktu Fleksibel.

Akad Murabahah Logam Mulai untuk Investasi Abadi Abadi adalah persetujuan atau kesepakatan yang dibuat bersama antara Pegadaian dan Nasabah atas sejumlah pembelian Logam Mulia disertai keuntungan dan biaya-biaya yang disepakati.

Keuntungan berinvestasi melalui Logam Mulia :

1.Jembatan mewujudkan Niat Mulia Anda untuk :
– Menabung Logam Mulia untuk menunaikan Ibadah Haji
– Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak di masa mendatang
– Memiliki Tempat Tinggal dan Kendaraan.
2.Alternatif Investasi yang aman untuk menjaga Portofolio Asset Anda
3.Merupakan Asset yang sangat Likuid dalam memenuhi kebutuhan dana yang mendesak, memenuhi
kebutuhan modal kerja untuk pengembangan usaha, atau menyehatkan cashflow keuangan bisnis Anda, dll
4.Tersedia pilihan logam mulia dengan berat 5gr, 10gr, 25gr, 50gr, 100gr, dan 1kg