dzikir

DZIKIR DAN PENYAKIT HATI

Rasulullah bersabda, “Hati itu ada tiga macam : Pertama, hati yang terbalik. Yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan sedikitpun dan itu adalah hati orang kafir. Kedua, hati yang di dalamnya ada titik hitam, yang di dalamnya bertarung antara kebaikan dan kejahatan. Kalau salah satu kuat, maka yang kuat itulah yang menang. Ketiga, hati yang terbuka yang di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar sampai hari kiamat. Itulah hati orang mukmin”

Dalam hadits di atas Rasulullah menjelaskan hati (qalb) dalam pengertian ruhaniyah. Sesungguhnya qalb (jantung atau hati) memiliki dua makna, yaitu qalb dalam bentuk fisik dan qalb dalam arti kekuatan ruhaniah. Dalam bentuk fisik Rasulullah menyebutnya sebagai mudghah (segumpal daging), yang apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Sedangkan qalb dalam pengertian ruhaniah adalah qalb yang bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan, yang berpikir, yang bisa merasakan kesedihan dan kegembiraan. Itulah yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai hati. Sehingga seseorang bisa hancur ruhaninya, karena hatinya telah hancur.

Untuk memupuk hati supaya tetap berada pada jalan yang lurus, keberuntungan dan berada pada ketentraman, manusia senantiasa diharuskan banyak berdzikir kepada Allah SWT. ... dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62 : 10). Pada ayat lain Allah berfirman : (yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS 13 : 28).

Tentunya, di sini bukan hanya dzikir dalam arti ingat tok dengan tanpa disertai suatu kesadaran untuk melaksanakan segala perintah dan laranga-Nya. Tapi lebih jauh dari itu adalah suatu kesadaran spiritual yang disertai dengan keikhlasan tanpa rasa ragu-ragu sedikitpun. Sehubungan dengan keunikan hati ini, Imam Ja’far Shadiq menjelaskan tingkatan-tingkatan hati sebagai berikut : Pertama, hati yang tinggi. Tingginya hati ini ketika dzikir kepada Allah SWT. Kalau orang senantiasa berdzikir kepada Allah hatinya akan naik ke tempat yang tinggi. Kedua, hati yang terbuka. Hati ini diperoleh apabila kita ridha kepada Allah SWT. Ketiga, hati yang rendah, yaitu terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah. Keempat, adalah hati yang mati atau hati yang berhenti. Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah SWT sama sekali.

Dari beberapa hadits yang disebutkan di atas, kita bisa melakukan muhasabah : Pada posisi mana hati kita berada sekarang ?. Mudah-mudahan hati kita berada pada posisi yang tinggi, yakni berada dalam ketenangan dan selalu berdzikir kepada Allah SWT.

Seperti halnya tubuh kita (fisik), hati pun sering mengidap beberapa penyakit. Biasanya, penyakit-penyakit tersebut lebih sulit untuk disembuhkan. Berikut beberapa di antara penyakit hati yang sering mengidap pada orang Islam :

a. Bakhil

Berasal dari kata bakhula – yabkhulu – bukhlan, yang berarti kikir, pelit atau lokek. Secara lengkap dapat diartikan sebagai sikap mental yang enggan mengeluarkan sebagian harta yang wajib dikeluarkan, seperti zakat, memberi nafkah keluarga, mengeluarkan infak dan sedekah (Ensiklopedi Hukum Islam, I : 190). Menurut Ulama, sifat bakhil itu bukan hanya berkaitan dengan harta saja, melainkan juga bisa berkenaan dengan ilmu, penghormatan dan tenaga. Orang yang pelit dalam memberikan tenaga dan ilmu yang dimilikinya, bisa disebut bakhil. Demikian juga orang yang tidak mau mengucapkan salam atau berkata sopan kepada yang lain.

Berkaitan dengan sifat bakhil ini, Rasulullah pernah ditanya oleh sahabatnya : “Ya Rasulullah, mungkinkah orang Mukmin itu berdusta” ? “Mungkin”, jawab Rasulullah. “Mungkinkah seorang Mukmin pengecut” ? “Mungkin”, jawab beliau lagi. Kemudian sahabat tadi melanjutkan pertanyaannya. “Mungkinkah seorang Mukmin itu bakhil”? “Tidak mungkin”, jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Kalau kebakhilan itu masuk dalam hati seseorang, maka iman akan lari darinya”.

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata sifat bakhil itu membuat iman seseorang menjadi hilang dari hatinya. Jadi, tidak mungkin iman itu bercampur dengan sifat bakhil, karena dua hal ini saling bertentangan. b. Riya’ dan sum’ah

Sifat riya’ dan sum’ah bertentangan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas, beribadah hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah (karena Allah). Sedangkan riya’ dan sum’ah, beribadah untuk mendekatkan diri kepada manusia (ingin mendapat pujian manusia). Hati-hati dengan dua penyakit hati ini. Bila anda memberikan sumbangan supaya dilihat orang sebagai dermawan, maka anda terkena penyakit riya’. Demikian juga bila anda sengaja berlama-lama membaca surat yang panjang ketika menjadi imam shalat, padahal biasanya anda membaca surat-surat pendek saja ketika shalat sendirian, maka anda menjadi sum’ah, bila dengan bacaan itu anda ingin didengar orang sebagai orang yang ahli ibadah dan hafal surat-surat yang panjang.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip ucapan Imam Ali kw. : “Ada empat tanda orang yang riya’, yaitu malas bila beribadat sendirian, rajin di depan orang banyak, bertambah amalnya bila dipuji, dan berkurang bila tidak ada yang memujinya”.

About ahzani

mahasiswa ekonomi pembanguan fakultas ekonomi universitas siliwangi 2006 View all posts by ahzani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: